Karet Alam Natural Rubber

Artikel dari BTPK Bogor Pengembangan

Serat Sabut Kelapa Berkaret (Sebutret)

 
Potensi 1,1 juta ton sabut setiap tahun belum dimanfaatkan, bahkan di beberapa daerah masih dianggap sebagai limbah. Serat sabut kelapa sangat ulet dan tahan air sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan keset dan tambang. Serat sabut kelapa juga tahan patah dan cukup lentur jika terkena tekanan dan tekukan berulang, sehingga banyak digunakan untuk pelapis bagian atas per pada kasur pegas dan jok mobil. Penggunaan serat sabut kelapa sebagai pelapis atau bantalan, di mana setiap serat sabut disusun lurus atau bersilang, sering timbul masalah yakni tumpukan serat mudah terurai dan sifat lenturnya berkurang atau hilang. BPTK Bogor berhasil mengatasinya dengan cara mengeritingkan sabut dan melapisi permukaannya dengan lapisan tipis karet untuk menstabilkan bentuk, menambah keuletan, dan meningkatkan kelenturan tumpukan serat sabut.
 
Kapasitas alsin untuk memproduksi sebutret bervariasi, bergantung pada bentuk sebutret. Sebagai contoh, untuk memproduksi sebutret bentuk jok, kapasitasnya mencapai12 jok berukuran 56 cm x 56 cm x 13 cm per hari (8 jam kerja efektif) atau 3.600 jok/tahun (1 tahun=300 hari kerja). 
Biaya produksi diperkirakan sekitar Rp103 juta/tahun. Dengan harga jual jok Rp53.000/buah, pemasukan mencapai Rp190 juta. Pemasukan tersebut dapat ditingkatkan dengan menambah jam kerja atau kapasitas produksinya.


Flinkote Berbasis Karet Alam


Flinkote merupakan bahan pelapis antibocor dan antikarat yang telah lama memasyarakat. Pelapis antibocor
komersial seperti Aqua-seal, Aqua-proof, dan Multiguard umumnya digunakan dengan mengoleskannya secara tipis pada bahan, bersifat tidak lengket dan kurang elastis jika sudah kering serta mudah terkelupas jika kena goresan. Flinkote dapat dioleskan dengan lapisan cukup tebal, lebih viskos, relatif tahan goresan, dan masih tetap elastis walaupun sudah kering. Oleh karena itu, untuk keperluan tertentu flinkote lebih disukai karena lebih tahan lama terutama sebagai pelapis antikarat dan antibocor, serta untuk melindungi bodi dan rangka bagian bawah kendaraan dan atap bangunan dari air hujan.
Kebutuhan flinkote di dalam negeri diperkirakan mencapai 5.000 t/tahun. Flinkote beredar di pasaran dalam berbagai nama dagang antara lain Seip007, UPC two, dan Supersilcoate, dengan harga Rp8.000-Rp24.000/kg. Berdasarkan pertimbangan kedekatan sifat fisiko-kimianya, karet alam berpotensi menggantikan karet sintesis sebagai bahan dasar flinkote. BPTK Bogor telah melakukan serangkaian penelitian untuk menghasilkan paket teknologi pembuatan flinkote berbasis campuran aspal dan karet alam, termasuk alsin manufakturnya.


Karet Busa Alam

Sebelum ada karet sintetis, karet busa dibuat dari lateks alam. Karet busa banyak dikonsumsi untuk berbagai keperluan seperti kasur, bantal, jok, komponen sepatu, penyekat, dan pelapis bagian dalam jaket. Karena harga karet sintetis lebih murah dibanding lateks alam maka busa dari lateks alam pun makin ditinggalkan. Busa sintetis umumnya dibuat dari karet EVA/poliuretan dan plastik. Konsumsi busa sintetis di dalam negeri tahun 2000 mencapai hampir 19 juta lembar senilai Rp46,8 miliar, busa plastik 722.000 m (nilai Rp665,5 juta), dan busa untuk jok kendaraan bermotor sebanyak 4.303 unit (nilai Rp186, 3 juta). Dibanding busa sintetis, busa alam lebih unggul dalam kenyamanan dan umur pakai, karena ketahanan sobek, tegangan putus, dan pampatan tetapnya jauh lebih baik. Untuk memberikan nilai kepegasan yang sama, busa alam hanya memerlukan ketebalan sepertiga dari busa sintetis. Selain kurang nyaman dan kurang awet, proses pembuatan karet busa sintetis juga berisiko tinggi karena bahan bakunya (isosianat) beracun dan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, permintaan terhadap karet busa alam cenderung meningkat terutama untuk perlengkapan tidur dan jok mobil. Selain diproduksi oleh perusahaan yang telah lama ada, berbagai merek kasur dan bantal dari karet busa alam pun kini bermunculan. Industri yang memproduksi busa alam umumnya merupakan industri besar, karena untuk memproduksi busa alam diperlukan investasi peralatan yang cukup mahal dan sebagian masih diimpor. Untuk meningkatkan kinerja industri barang jadi lateks berskala UKM, pada tahun 2002 BPTK Bogor telah berhasil merancang bangun alsin karet busa berkapasitas10-15 bantal/hari (8-12 jam kerja efektif). Harga jual bantal berkisar Rp50.000-Rp75.000 atau sesuai pesanan. Harga jual bantal sebenarnya masih berpeluang untuk ditingkatkan mengingat produk serupa bermerek terkenal dijual dengan harga Rp200.000-Rp280.000. Produk terutama dipasarkan untuk ekspor dan kalangan eksklusif serta hotel-hotel berbintang.

 

Sarung Tangan Dari Lateks

Untuk mengetahui lebih lanjut Klik Sini