Karet Alam Natural Rubber

KARET KLON UNGUL Credited to Pusat Penelitan Karet Indonesia

Menurut  prakiraan  bahwa  potensi  produksi  karet  dapat  ditingkatkan mencapai 5.000 – 7.000 kg/ha/th (Aidi-Daslin et al., 1995;  Ho, 1981).  Klon-klon karet unggul yang dihasilkan sampai saat  ini, mampu mencapai potensi produksi dengan rata-rata produksi selama 15 tahun sadap berkisar 1.500 – 1.800 kg/ha/th dalam penanaman skala komersial.  Usaha untuk mendapatkan klon-klon yang lebih unggul terus diupayakan melalui program  pemuliaan  dan seleksi,  untuk  menghasilkan  klon-klon unggul  modern  dengan  produktivitas mencapai lebih dari 2.500 kg/ha/th pada tahun 2005 (Pusat Penelitian Karet, 1996). 

Perbaikan ciri genetik tanaman untuk mendukung produktivitas tersebut di atas  dilakukan  untuk  menghasilkan tipe klon  ideal  dengan  kelebihan  ciri sekunder yang menguntungkan antara lain :

·         Percabangan utama tumbuh lebih awal dan relatif kecil, sehingga tajuk lebih ringan dan tanaman lebih tahan terhadap gangguan angin (Ginting et al., 1995).

·         Tipe  percabangan  tumbuh  kesamping  (lateral)  sehingga  membentuk  tajuk se-perti cemara, akan menghasilkan permukaan daun yang lebih luas untuk berlangsungnya proses fotosintesis (Napitupulu, 1975).

·         Pertumbuhan batang yang jagur sehingga masa TBM dapat dipersingkat.

·         Tingkat  resistensi yang tinggi terhadap penyakit utama khususnya  penyakit gugur daun.

Untuk mendapatkan sifat-sifat tersebut di atas sejak tahun 1974 dilakukan program yang meliputi :

·         Persilangan  dan  seleksi pohon induk asal semaian PBIG di  Sumatera  Utara untuk menghasilkan klon dengan tajuk tipe cemara.

·         Persilangan  dengan klon-klon introduksi seri PB dan FX untuk  menghasilkan klon produksi awal tinggi dan toleran penyakit daun.

·         Pertukaran  klon  antar negara penghasil karet alam  yang  tergabung  dalam ANRPC.

·         Persilangan dengan berbagai genotipe terpilih dari plasma nutfah IRRDB 81 untuk menghasilkan klon penghasil lateks-kayu.

Dari hasil program tersebut di atas, telah dihasilkan sejumlah klon karet IRR seri 00 yang telah diseleksi melalui pengujian pendahuluan dan pengujian lanjutan. Klon IRR 5 merupakan klon terbaik, dan dapat dikembangkan penanamannya dalam skala komersial.

 

POTENSI KEUNGGULAN

Produksi :

Rata-rata produksi karet kering kg/ha/th klon IRR 5 pada tiga lokasi dapat dilihat pada Tabel 1.  Di lokasi kebun Sei Baleh dan Sei Putih dengan kondisi agroklimat sedang, klon IRR 5 memperlihatkan produksi yang cukup tinggi, rata-rata kisaran 1707 -  1946 kg/ha/th dibanding klon PR 261 (1347 kg) dan BPM 24 (1537 kg).  Di lokasi kebun Bukit Lawang dengan agroklimat basah (curah hujan tinggi), klon IRR5 memberikan produksi yang cukup baik, sebesar 1830 kg/ha/th.  Rata-rata produksi dari tiga lokasi memperlihatkan potensi produksi yang lebih tinggi 19 – 36% dari klon PR 261 dan BPM 24.

Tabel 1. Produksi karet kering klon IRR 5 berbagai lokasi dibanding dengan PR 261 dan BPM 24

 

No.

Lokasi

Jumlah
tahun

Sadap

Produksi (kg/ha/th)

IRR 5

PR 261

BPM 24

1.

Sei Baleh

2

1707

-

1537

2.

Sei Putih

5

1946

1347

-

3.

Bukit Lawang

3

1830

-

-

4.

Rata-rata

1828

1347

1532

5.

% terhadap PR 261

136

100

-

6.

% terhadap BPM 24

119

-

100

 

Pertumbuhan :

Klon IRR 5 memiliki pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga klon ini digolongkan kepada jenis klon penghasil lateks-kayu.  Pada tiga lokasi pengujian, klonIRR 5 mampu mencapai pertumbuhan lilit batang pada umur5tahun sebesar rata-rata 51,7cm. Dari perkembangan lilit batangtersebut dengan pertumbuhan yang normal, IRR 5 dapat disadap pada umur 4 tahun, dengan kriteria matang sadap yaitu ukuran lilit batang 45 cm pada ketinggian 150 cm dari permukaan tanah.  Di lokasi beriklim basah (kebun Bukit Lawang), lilit batang IRR 5 lebih rendah dibanding dua lokasi lainnya, namun pertumbuhannya masih jauh di atas rata-rata klon komersial yang sudah dianjurkan.  Pada saat peremajaan umur 25 tahun diprediksi, klon IRR 5 mampu menghasilkan volume kayu log (kayu bebas cabang) sebesar 0,80 m3 per pokok dan kayu dari kanopi sebesar 1,20 m3 per pokok (Aidi Daslin, 2002).

Tabel 2. Perkembangan lilit batang klon IRR 5 dibanding PR 261 dan BPM 24

No.

Lokasi

Lilit batang (cm)
umur 5 tahun

Lilit batang (cm)
umur 8 tahun

IRR 5

PR 261

BPM 24

IRR 5

PR 261

BPM 24

1.

Sei Baleh

53,8

-

52,6

73,3

-

68,4

2.

Sei Putih

50,7

30,2

-

63,2

45,4

-

3.

Bukit Lawang

50,7

-

-

60,0

-

-

4.

Rata-rata

51,7

30,2

52,6

65,2

45,4

68,4

5.

% terhadap PR 261

171

100

-

144

100

-

6.

% terhadap BPM 24

98

-

100

95

-

100

 

Ketahanan Penyakit :

Klon IRR 5 tergolong resisten terhadap gangguan penyakit gugur daun Colletotrichum dan Corynespora.  Pada tiga lokasi pengujian, klonIRR 5 memperlihatkan pertumbuhan daun tajuk yang tergolong rimbun tanpa adanya serangan penyakit daun yang serius.  Dari hasil pengamatan intensitas serangan tergolong kecil yaitu 5 – 8% dibandingkan klon lainyang lebih peka mencapai 25 – 40%.  Pada daerah beriklim basah, klon IRR 5 digolongkan moderat terhadap gangguan penyakit cabang (jamur upas) dan mouldirot.

Mutu Lateks dan Sifat Karet :

IRR 5 menghasilkan lateks yang stabil dengan warna putih dan prakoagulasi yang tergolong rendah. Berdasarkan analisis mutu lateks, klon IRR 5 mempunyai KKK (kadar karet kering) lateks kebun = 34,49%, nilai Po (plastisitas awal) = 42, PRI (Indeks Retensi Plastisitas) = 98, VR (Viskositas mooney) = 78, kadar Mg = 83,2 dan indeks lovibond = 10.  Dengan sifat-sifat tersebut maka lateks klon IRR 5 sangat sesuai diolah menjadi SIR 3 WF, SIR 5 dan SIR 10.

 

HISTORI PERAKITAN

Klon IRR 5 merupakan klon primer yang diseleksi dari pohon induk (ortet) yang berasal dari semaian PBIG tahun tanam 1977. Sejumlah ortet terpilih diuji pendahuluan di kebun percobaan Sungei Putih pada tahun tanam 1982 denganjarak tanam 2 x 2 m.  Evaluasi dilakukan selama 8 tahun meliputi potensi produksi karet kering, pertumbuhan dan berbagai karakteristik sekunder.

Sejak tahun 1992 genotipe terbaik dari pengujian pendahuluan, diregistrasi dengan nomor SP 1 – 20 dan dilanjutkan dengan pengujian lanjutan di tiga lokasi yaitu kebun SUngei Putih, Sei Baleh dan Bukit Lawang (Aidi Daslin, 1990).  Percobaan pada pengujian lanjutan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan.  Ukuran plot 5 baris x 10 pohon (50 pohon) dengan jarak tanam 6 x 4 m.  Evaluasi pada tahap pengujian lanjutan minimal 10 tahun dan berdasarkan potensi hasil lateks, pertumbuhan serta  cirri sekunder lainnya, telah terpilih satu klon yang memiliki potensi produksi terbaik serta mempunyai potensi biomassa kayu yang tinggi, yaitu nomor genotipe SP-5 yang selanjutnya diregistrasi dengan nama klon IRR 5.

DESKRIPSI KLON IRR 5

1.   Helaian daun                                           

      a.   Warna                                         :     hijau kekuningan

      b.   Kilauan                                        :     tidak mengkilat

      c.   Tekstur                                        :     halus

      d.   Kekakuan                                   :     agak kaku          

      e.   Bentuk                                        :     elips

      f.    Pinggir daun

      g.   Penampang memanjang                :     rata

      .     Penampang melintang                   :     rata

      h.   Posisi helaian daun                       :     terpisah

      i.    Simetris daun pinggir                    :     simetris

      j.    Ukuran daun                                :     2,4 : 1

      k.   Ujung daun                                  :     sedang

2.   Anak tangkai daun                            

      a.   Posisi                                          :     mendatar

      b.   Bentuk                                        :     lurus

      c.   Panjang                                       :     sedang

      d.   Sudut                                          :     sedang

3.   Tangkai daun

      a.   Posisi                                          :     mendatar

      b.   Bentuk                                        :     lurus

      c.   Panjang                                       :     sedang

      d.   Ukuran kaki                                :     sedang

      e.   Bentuk kaki                                 :     berlekuk

4.   Payung daun

      a.   Bentuk                                        :     kerucut

      b.   Besar                                          :     agak kecil

      c.   Kerapatan permukaan                 :     terbuka

      d.   Jarak antar payung                       :     sedang

5.   Mata

      a.   Letak mata                                  :     rata

      b.   Bekas tangkai daun                      :     tebal

6.   Kulit batang                                      

      a.   Corak kulit gabus                        :     celah sempit-putus

      b.   Warna kulit gabus                        :     coklat

7.  Warna lateks                                      :     putih

 

PROSPEK PENGEMBANGAN

Pada saat ini klon IRR 5 telah direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Karet sebagai klon anjuran komersial.  Klon ini sangat sesuai ditanam di daerah beriklim sedang s.d basah.  Klon IRR 5 digolongkan sebagai jenis klon penghasil lateks dan kayu, sehingga sangat cocok dikembangkan oleh perusahaan yang akan memanfaatkan kayu untuk keperluan industri meubel maupun MDF dan juga kebutuhan lateks untuk keperluan industri ban, sarung tangan dan lain-lain.

Klon IRR 5 adalah klon yang memiliki pola produksi awal tinggi (quick starter), dan potensi volume kayu log dan kayu percabangan  yang besar serta berbagai kelebihan karakteristik sekunder yang mendukung produktivitas klon, sehingga klon ini memiliki prospek yang baik dimasa mendatang, untuk dikembangkan di pertanaman komersial.  Pengembangan klon IRR 5 akan meningkatkan pendapatan pekebun melalui peningkatan produktivitas lateks maupun kayu di dalam usaha agribisnis karet.