Karet Alam Natural Rubber

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

 

Keadaan Karet Industri di Indonesia

 

Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber).

 

Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan.

Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan.

 

Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat.

Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut.

 

Sasaran jangka panjang (2025) adalah:

(a) Produksi karet mencapai 3,5-4 juta ton yang 25% di

antaranya untuk industri dalam negeri;

(b) Produktivitas meningkat menjadi 1.200-1.500 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300

m3/ha/siklus;

(c) Penggunaan klon unggul (85%);

(d) Pendapatan petani menjadi US$ 2.000/KK/th dengan tingkat harga 80% dari harga FOB; dan

(e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet.

 

Sasaran jangka menengah (2005-2009) adalah:

(a) Produksi karet mencapai 2,3 juta ton yang 10% di antaranya untuk industri dalam negeri;

(b) Produktivitas meningkat menjadi 800 kg/ha/th dan hasil kayu minimal

300 m3/ha/siklus;

(c) Penggunaan klon unggul (55%);

(d) Pendapatan petani menjadi US$ 1.500/KK/th dengan tingkat harga 75% dari harga FOB; dan

(e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet di sentrasentra produksi karet.

 

Kebijakan operasional di tingkat on farm yang diperlukan bagi pengembangan agribisnis karet adalah :

(a) Penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi (3.000 kg/ha/th);

(b) Percepatan peremajaan karet tua seluas 400 ribu ha sampai dengan 2009 dan 1,2 juta

ha sampai dengan 2025;

(c) Diversifikasi usahatani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan ternak; dan

(d) Peningkatan efisiensi usahatani.

 

Di tingkat off farm kebijakan operasional yang dikembangkan adalah :

(a) Peningkatan kualitas bokar berdasarkan SNI;

(b) Peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani;

(c) Penyediaan kredit usaha mikro, kecil dan menengah untuk peremajaan, pengolahan dan pemasaran

bersama;

(d) Pengembangan infrastruktur;

(e) Peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir; dan

(f) Peningkatan pendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran dan lain-lain.

 

Kebutuhan dana untuk investasi pada pabrik karet remah dengan kapasitas 70 ton/hari adalah Rp 25,6 milyar, namun belum perlu segera penambahan pabrik baru. Untuk kayu karet, diperlukan dana sekitar Rp 2,12 milyar untuk menghasilkan treated sawn timber dengan kapasitas 20m3/hari.