Karet Alam Natural Rubber

 

Reference: http://www.gapkindo.org/

Supply
Merosotnya harga karet yang terjadi akhir-akhir ini telah memicu demonstrasi oleh ribuan petani karet di bagian Selatan Thailand. Akibatnya pemerintah menyetujui subsidi sebesar 21.2 milliar Baht atau USD 681 juta untuk para petani karet guna mengatasi anjloknya harga karet dunia. Bilamana aksi protes ini tidak segera surut maka hal tersebut berpotensi menggangu kelancaran ekspor karet mengingat 80% produksi karet berasal dari wilayah Selatan Thailand.
LMC mencatat kenaikan ekspor Thailand untuk periode 12 bulan (Agt’12 – Jul’13) melebihi 3,3 juta ton. Data perdagangan menunjukkan bahwa volume ekspor enam bulan pertama 2013 adalah 11 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2012. Ekspor dari indonesia termasuk compound mencapai 2,7 juta ton untuk periode Jun 2012- Mei 2013.
Produksi karet Thailand dan Indonesia menunjukkan peningkatan masing-masing sebesar 8.8% dan 5,7% sedangkan Malaysia mengalami penurunan sebesar 5 % dan Vietnam turun 7,2 % pada periode Oktober
2012 – September 2013 (LMC Rubber Bulletin).
Demand
Berdasarkan laporan LMC konsumsi China mengalami kenaikan sebesar 5,9 % menjadi 4.103.000 ton sedangkan Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 3,7% menjadi 902.000 ton pada periode Okt’12 – Sep’13. Untuk Eropa khususnya Jerman dan Perancis juga mengalami penurunan masing –masing sebesar 1,3% dan 7%.
Lemahnya permintaan di industri ban menyebabkan turunnya harga karet sintetis baik jenis Butadien (BD) dan Styrene (SBR). Hal tersebut diperparah dengan bertambahnya kapasitas produksi sebesar 1 juta ton di negara produsen karet kawasan asia. Hal ini secara tidak langsung memberikan tekanan terhadap harga karet alam saat ini.
Stok karet di Qingdao yang merupakan stok terbesar di negara tersebut turun ke level 283.000 ton pada 17 September 2013 dari 295.000 ton pada 30 Agustus 2013.